
Made Dana (kiri) dan Ary Ginanjar
I Made Dana MT bersama Ary Ginanjar Agustian meluncurkan buku berjudul “Building The Best Indonesian Business Way” pada hari Minggu, 12 Desember 2010 di Menara 165, Jakarta Selatan. Peluncuran dilaksanakan pagi hari, dihadiri oleh Pengurus dan anggota ISTMI, Pengurus dan anggota BKSTI, para alumni ESQ, dan relasi dari kedua penulis. Made saat ini menjabat Ketua Umum BP-ISTMI dan di buku disebut sebagai Profesional Bisnis dan Praktisi Industri. Sedangkan Ary Ginanjar adalah Pendiri dan CEO ESQ Leadership Center. Pengalamannya puluhan tahun bekerja di industri otomotif terbesar di Indonesia yaitu Toyota telah menggerakkan hatinya untuk memberikan sumbangsih bagi negeri tercinta Indonesia.
Buku ini, menurut Made, merupakan sari dari keunggulan “World Class Business Way” dan “ESQ Way” untuk menuju Indonesia Emas di tahun 2020. Ide penulisan ini muncul sejak lama dan terpicu kembali setelah Made bertemu dengan Ary Ginanjar tahun 2001. Tulisan yang pernah dibuatnya tahun 1994 saat magang selama 1 tahun di pabrik Toyota, Jepang, dikumpulkannya dan ditulis ulang, digabungkan dengan konsep ESQ yang diperolehnya lewat pelatihan. Penulis yang lulusan Teknik Industri ITB (angkatan 1984) ini ingin sekali membuat Indonesia Way seperti halnya Toyota membuat Toyota Way, Apply membuat Apple Way dst. Tahun 2008 menjelang Musyawarah Anggota ISTMI, buku sudah hampir rampung dan waktu itu direncanakan akan diluncurkan bersamaan dengan Musang ISTMI akhir 2008, namun baru terealisasi 2 tahun kemudian.

Sebagian peserta yang hadir.
Orang Indonesia biasanya tidak berani langsung menyebut yang ia miliki sebagai ‘the best’ atau terbaik. Umumnya hanya sampai menyebut lebih baik, bahkan falsafah Teknik Industri pun menyebut ‘tidak ada yang terbaik, melainkan selalu ada yang lebih baik’, sehingga terjadi perbaikan yang terus-menerus. Namun demikian, penggunaan kata ‘the best’ dalam judul buku dimaksudkan untuk menjadi pemikiran tahap awal menyongsong Indonesia Emas di tahun 2020.
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa di seluruh dunia ada perusahaan atau bisnis yang gagal dan ada pula yang sukses, bahkan ada yang bisa mencapa usia lebih dari 100 tahun? Apakah bisnis di Indonesia sudah dapat dikatakan sukses, belum sukses, atau sedang2 saja? Yang jelas, ketika orang mendirikan bisnis, pasti inginnya berhasil.
Made juga mengusulkan ACA yang mudah diingat karena terdengar seperti bahasa India. A itu dari Awareness. Kesadaran kita mau menjadi apa pada 5, 10, atau 20 tahun ke depan? Seperti yang sudah dilakukan Thailand dengan penyiapan dan pewujudan infrastruktur sehingga sekarang jauh lebih maju. Apakah kita mau menjadikan setiap individu orang Indonesia itu ibarat lampu yang pijarnya hanya 5 Watt, 50 Watt, atau 100 Watt. Kita bersyukur sekarang di Indonesia ada ESQ yang dibuat oleh Ary Ginanjar untuk membina SDM kita.
C dari Competency. Kalau hati sudah terang, kompetensi tinggal diisikan ke dalamnya, apakah mau menjadi ahli pertanian, bank, pabrik, dll. A yang terakhir singkatan dari Atmosphere. Merupakan lingkungan kerja yang harus diciptakan supaya nyaman, aman, memenuhi standar.
Uraian dalam buku ini menekankan kembali pentingnya siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action). Kenyataannya di Indonesia orang sudah baru pandai membuat Plan, paling jauh sampai Do. Namun masih sering tidak dilakukan Check dengan mengevaluasi apa2 yang sudah dilakukan dan Action, melakukan tindakan2 koreksi atas hasil evaluasi tadi. Itu yang membedakan dengan bisnis/industri maju. Siklus PDCA tersebut ditambahkan dengan aspek spiritualitas dari ESQ.
The best Indonesian business way diusulkan dengan menggunakan PDCA lalu dilengkapi dengan ESQ yaitu Soul (SQ), Mind (EQ), dan Body (IQ).

Hardcover, berwarna, 295 halaman, 14 x 21 cm.
Konsep yang ditawarkan dalam buku ini tidak hanya untuk perusahaan, melainkan untuk setiap organisasi, termasuk organisasi pemerintah. Karena ini merupakan usulan, tentu masih terdapat kekurangan dan penulis siap menerima kritik dan saran. Buku ini dibuat hardcover, halaman dalam berwarna, tebal 295 halaman, dilengkapi dengan tabel dan gambar2 ilustrasi. Ukuran buku 14 x 21 cm.
Dalam kata pembukanya sebelum paparan Made, Ary Ginanjar yang juga adalah Pendiri dan CEO ESQ Leadership Center merasa sangat senang karena setelah 10 tahun ESQ Leadership Center berdiri, akhirnya mampu memadukan konsep spiritualitas dan agama dengan konsep bisnis atau kegiatan ekonomi yang sangat logik. Memang baru belakangan disadari bahwa kekuatan spritualitas bisa mendorong gerak manusia, sebagai sistem pengendali, nilai2 yang membuat para eksekutif mempunyai kendali dalam segenap langkahnya.
Runtuhnya perusahaan besar di AS seperti Omron dan Worldcom adalah contoh dari praktek bisnis yang hanya menyandarkan kepada konsep bisnis yang terlalu logik. Bahkan yang mencetuskan GCG (good corporate governance) yaitu Arthur Anderson pun akhirnya malah yang melakukan pembohongan. GCG saja ternyata tidak cukup.
Buku ini adalah konsep yang sangat ditunggu karena aplikatif tapi tanpa kehilangan kendali karena ada kekuatan spritualitas di dalamnya. Dasar negara Indonesia yaitu Pancasila kalau diperas bisa jadi hanya satu yaitu Ketuhanan YME. Di Jepang meski mayoritas tidak mengakui agama karena pengaruh barat oleh AS setelah PD II, tetapi nilai spiritualitasnya selalu ada dalam konsep bisnisnya. “Mudah-mudahan buku ini bisa menginspirasi yang lainnya. Penggabungan Pak Made yang sangat logik dengan saya yang imajiner, kiranya menjadi konsep yang pas untuk dijalankan di Indonesia,” begitu ujar Ary Ginanjar di ujung sambutannya. Dia pun mengatakan semua yang hadir maupun rekan2 lainnya yang tidak hadir wajib membeli dan memahami buku tersebut.

Prof. Yuri, Ir. Bakti Luddin, Ir. Teguh Slamet
Prof. T. Yuri M. Zagloel, guru besar UI dan Ketua BKSTI dalam sambutan setelah paparan penulis, mengucapkan selamat dan salut kepada Made Dana, serta berminat ikut pelatihan ESQ meski belum sempat. Bangsa Indonesia, katanya, sebetulnya sangat kuat spiritualnya, sehingga seharusnya bisa menggabungkan kekuatan itu dalam praktek bisnisnya. Terlebih bidang Teknik Industri yang selalu bicara integrasi, mestinya tidak sulit untuk memadukan kedua hal itu.
Yuri yakin bahwa buku ini akan diterima masyarakat dan akan segera meluas. Masyarakat Indonesia itu budayanya masih berjalan, belum jadi. Proses itu baru dimulai sejak Indonesia merdeka tahun 1945 atau 65 tahun yang lalu. Bagaimanapun kita senang karena sudah banyak yang membuat konsep manajemen berkarakter Indonesia, proses bisnis bergaya Indonesia. Unsur keindonesiaan itu diyakini lebih mampu memecahkan masalah2 Indonesia.
Sesi terakhir acara peluncuran buku diisi dengan tanya jawab dan diskusi dengan peserta yang hadir dan terakhir ditutup dengan makan siang bersama.(wp)
Foto-foto lainnya.